Sambutan

Sambutan Anies Baswedan dalam Gadjah Mada Mengajar

Gadjah Mada Mengajar dan Kampus Kerakyatan

Oleh : Nur Saudah Al Arifa Danur – Pendiri Gadjah Mada Mengajar

Soekarno mengajar, Bung Hatta mengajar, Bung Syahrir mengajar, Ki Hajar Dewantara mengajar, Panglima Besar Jenderal Sudirman mengajar, Kartini Mengajar, Sanusi Pane mengajar, Jenderal AH Nasution mengajar, Prof. Koesnadi  (Mantan Rektor UGM) juga mengajar. Praktis semua pejuang dan pemimpin republik pernah mengajar. Mereka memberi inspirasi. Mereka menjadi inspirasi. Mengajar adalah memberi inspirasi. Dan menginspirasi adalah tugas utama seorang pemimpin.

Sungguh  berbanggalah kita menjadi mahasiswa Universitas Gadjah Mada, jika menilik sejarah masa lampau, pada saat pembangunan pertama oleh Ir. Soekarno beliau berpesan, “Kampus ini didirikan oleh dan untuk rakyat, maka dari itu aku beri nama kampus kerakyatan.” Program-program pro rakyat pun terlahir dari universitas perjuangan ini. Dahulu pada era Prof. Koesnadi menjabat sebagai Rektor UGM, pernah dibuat program yang real kongkrit mengakar rumput yaitu pengiriman tenaga mahasiswa (PTM) ke pelosok-pelosok dan daerah terpencil untuk mengajar. Program yang berlangsung tahun 1951-1962 ini, menjadi cikal bakal tumbuh dan berkembangnya ribuan SMA dan memicu berdirinya perguruan tinggi negeri di kota-kota di Indonesia. Program PTM juga menjadi inspirasi bagi program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilaksanakan beberapa kampus saat ini dan menjadi SKS wajib bagi mahasiswa UGM.

Pada awal tahun 1950, Indonesia yang sebelumnya berbentuk RIS, kembali menjadi NKRI. Saat itu harapan rakyat untuk hidup merdeka dan bangkit begitu besar. Begitu  pula kebutuhan akan pendidikan sangat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Akan tetapi, keinginan tersebut sulit diwujudkan, karena pemerintah belum memiliki cukup guru. Selain jumlahnya yang masih terbatas, banyak guru yang gugur dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Untuk memenuhi kebutuhan guru inilah, pada tahun 1951 UGM mulai menerjunkan mahasiswanya. Mereka diberi tugas untuk mengajar dan mendirikan sekolah lanjutan tingkat atas (SMA) di sejumlah kota di luar pulau Jawa. Kegiatan ini lebih dikenal dengan sebutan PTM.

Tahun 1962, tercatat sekitar 1218 mahasiswa UGM dikirim ke berbagai daerah untuk mengajar. Dari PTM, pendidikan daerah menjadi berkembang dengan dirintisnya sekolah lanjutan yang sebelumnya belum ada di daerah tersebut. Pada tahun 1960, melalui PTM pemerintah menjadi terbantu dan dapat membuka 135 sekolah lanjutan tingkat atas (SMA) di luar Jawa. Selain itu, 25 sekolah di luar Jawa yang sebelumnya sempat akan ditutup, bangkit kembali dengan kehadiran para mahasiswa tersebut. PTM UGM juga menginspirasi mahasiswa dari universitas lain untuk melakukan hal serupa, menjadi pengajar di daerah. Sampai berakhirnya program ini pada tahun 1964, sebanyak 225 mahasiswa dari kampus lain turut berpartisipasi mengembangkan pendidikan di sana.

Usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ini, membuahkan hasil. Selain membantu berdirinya sekolah-sekolah lanjutan, PTM juga menginspirasi para siswa untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Siswa didikan PTM yang melanjutkan studinya tersebut, salah satunya adalah Josef Riwukaho asal Kupang, yang pernah menjadi dekan di almamaternya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM. Contoh siswa asal Kupang lainnya yang berhasil adalah Adrianus Mooy, yang pernah menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Kini, setelah hampir 50 tahun lebih PTM berakhir, dengan semangat yang sama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, muncullah ide untuk menyoal kembali Universitas Gadjah Mada sebagai kampus kerakyatan melalui program Gadjah Mada Mengajar yang pro rakyat.

Program TPM yang berubah menjadi KKN, di UGM dilakukan terutama bagi mahasiswa tingkat 3, Gadjah Mada Mengajar merupakan sarana pembelajaran untuk lebih mendekatkan UGM kepada rakyat. Karena untuk berkontribusi tidak harus menunggu KKN, dengan bergabung dalam Gadjah Mada Mengajar, Tentunya sebuah kehormatan besar bagi para mahasiswa Gadjah Mada untuk melunasi sebuah janji kemerdekaan : mencerdaskan kehidupan bangsa!

Saat ini Gadjah Mada Mengajar mempunyai  77 relawan yang tergabung dalam Duta Pendidikan Gadjah Mada Mengajar dengan rincian sebagai berikut : 12 pengajar IPS, 12 pengajar IPA, 12 pengajar Matematika, 12 pengajar bahasa inggris, 14 pengjar TPA, 5 orang guru seni dan budaya, 5 pengajar Bimbingan konseling serta 5 orang managemen program.

Gadjah Mada Mengajar saat ini difokuskan untuk berkontribusi di Shelter Gondang 2, Cangkringan dan juga di bantaran kali Gadjah Wong tepatnya di papringan (belakang museum Affandi). “Sebaik-baiknya manusia ialah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”, dengan semangat kampus kerakyatan semoga Gadjah Mada Mengajar bisa memberikan kontribusi terbaiknya, bukan hanya mengabdi namun siap menginspirasi dan  menjadi akselerator untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Jurnalistik oleh : Tirani Dwitasari Korlstak

Leave a Reply